Dadiguru mono pancene ora gampang, semono uga dadi guru basa Jawa. Guru kang menehi piwulangan pancen kudu nduweni ngilmu bab basa lan budaya Jawa. Ngilmu bab nembang macapat, nulis aksara Jawa lan bab kang ana gandheng cenenge karo basal an budaya Jawa kang bisa diendhelake nalika menehi piwulang marang siswane. PeribahasaJawa berawalan huruf A. 1. Adhang-adhang tetese embun. Tegese njagakake barang mung sak oleh-olehe. Peribahasa ini berarti mengharap sesuatu dengan hasil apa-adanya. Bisa diartikan bersyukur dalam pemberian Tuhan. Tetapi Ajiningdiri soko lathi, ajining rogo soko busono (kehormatan diri adalah dari lisan, kehormatan raga adalah dari pakaiannya). Source: kata lathi ke dalam kotak yang pertama. Tulisan jawa lathi akan muncul di kotak yang kedua. ‌Ketikkan Kata Lathi Ke Dalam Kotak Yang Pertama. Aksara Jawa mono, manut dongengane, mula bukane saka paraga kang asma Aji Saka, asale saka tanah Hindustan.Ananging isih akeh cerita2 liya bab mula-bukane aksara jawa iku. Sing genah, aksara cacah 20 kang kapantha lima-lima iku duwe kandhutan sawijining crita: Hanacaraka (ana utusan), Datasawala (padha padudon), Padhajayanya (padha digdayane), Falsafahajining diri soko lathi berarti harga diri (bisa sifat, kelakuan) seseorang bisa dilihat dari bagaimana orang tersebut berbicara. Seringkali orang mendapat malapetaka karena tidak bisa menjaga bicaranya, misal bicara “ngawur” dan “sembrono”. Tetapi tak jarang juga kita mendapati keselamatan atau kemudahan karena menjaga lidah. Ajiningdhiri soko lathi lan budi. Harga diri setiap orang tergantung dengan ucapan dan perilakunya. Aksara Jawa pertama kali diciptakan atau diperkenalkan oleh Mpu Hubayun pada tahun ± 911 SM (Sebelum Masehi). Dalam perjalanan Sehingga sebagai utusan Tuhan harus mampu mencari Jatidiri dan menjadi diri sendiri sesuai dengan kodrat dan Bermuladari sikap pengawasan yang berlebihan ini pula, kemudian dalam masyarakat Jawa terdapat istilah Ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono.maksudnya bahwa kita harus selalu berhati-hati dalam bertutur kata, sopan santun, menghargai lawan bicara, termasuk berkata dengan perkataan dan tingkat bahasa yang benar.” (Zaairul Haq AjiningDiri Ana Ing Lathi, No Cocot Bodol. Agustus 05, 2020 – by Nanang Kusrianto 0 "Ajining Diri Ana Ing Lathi". Sebaris kata itu mendadak viral di dunia permusikan. Gegara sebuah group band " Weird Genius" memasukan kedalam bait sa'ir lagunya yang selainnya itu semua dalam bahasa Inggris yang dinyanyikan oleh Shara Fajira. 11 ajining dhiri soko lathi lan budi (berharganya dhiri pribadi seseorang,tergantung ucapan dan budhi pekertinya/akhlaknya) 12. Sing sopo biso weruh sakdurunge winarah lan di akoni sepodho – podhoning tumitah iku kalebu utusaning pangeran. (siapa yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi dan di akui sesama manusia,maka dia termasuk utusan Tuliskandalam bentuk aksara jawa, jerbasuki mawa bea, ajining dhiri saka lathi, ajining raga saka busana - 22424401. HQQH HQQH 06.04.2019 B. Daerah Sekolah Menengah Pertama terjawab JtRi9S. – Pepatah merupakan jenis peribahasa yang berisi nasihat atau ajaran dari orang tua. Secara umum dalam prinsip kepemimpinan, “ajining rogo soko busono, ajining diri soko lathi, yakni lakon kang sejati” bisa diartikan bahwa kemampuan menempatkan diri sesuai dengan busananya situasinya dan harga diri seseorang tergantung dijelaskan bahwa seorang pemimpin yang baik tidak berusaha mengintervensi dan memasuki dunia yang bukan dunianya. Seorang pemimpin juga harus dapat menempatkan ucapan dan kepandaiannya, karena hal ini dapat mendatangkan penghargaan bagi dirinya. Sikap seperti ini dapat dikatakan sebagai sikap eksplisit lagi, bisa diartikan bahwa pepatah ajining diri soko lathi berarti harga diri bisa diartikan sifat, kelakuan seseorang bisa dilihat dari cara bicaranya. Lathi di sini diartikan sebagai lidah. Seringkali seseorang mendapat masalah besar karena lidahnya, bisa dari cara bicaranya yang ngawur atau sembrono. Tapi tidak jarang pula kita mendapat suatu kemudahan karena menjaga lidah kita sering bicara kasar atau kotor maka dengan sendirinya orang lain akan menganggap kita adalah orang yang cenderung negatif, karena ucapan tidak jauh dari isi kepalanya. Sebaliknya jika lidah kita dijaga dengan berbicara yang positif dan sopan tentu akan membuat citra kita positif juga, tapi bukan berarti hal ini, lidah atau ucapan akan sangat berpengaruh terlebih lagi saat hidup bermasyarakat, sering kali cekcok antar tetangga terjadi karena lidah yang tak bisa dijaga. Fitnah sana-sini, mengumpat tidak tentu arah atau menggosip. Kenapa bisa sampai segitu parahnya? Memang sih panjang terowongan bisa diukur, tapi kalau panjang tenggorokan siapa yang tau, terlebih lagi bagi yang pandai bersilat Juga Tari Gandrung Banyuwangi dalam Pusaran SejarahKemudian ada sesama teman berantem yang diakibatkan karena saling mengejek padahal hanya bercanda, dan banyak sekali kejadiannya, yang mula ketawa saling ejek tetapi berujung saling pukul karena merasa tersinggung. Karena lidah bisa membawa masalah yang sangat besar apabila tidak dijaga dengan diri soko lathi dalam perkembangan Jawa, lidah akan sangat menjadi tolak ukur seseorang dalam menilai orang lain. Unggah-ungguh atau sopan santun dalam berbicara agaknya adalah suatu hal wajar yang harus ditaati, baik tua maupun muda. Maka, berpikirlah sebelum berucap, kalau kaki kita kesandung mungkin sakitnya akan hilang satu atau dua hari, tapi kalau lidah kita yang “kesleo” mungkin akan lebih panjang dan fatal rogo soko busono, secara kasar penampilan itu mewakili diri kita. Semisal kita melihat gelandangan atau pengemis dengan pakaian kumalnya, apa yang pertama kali kita fikirkan? Atau lebih gampangnya, di sekolah, kantor atau di mana saja kalau kita melihat orang dengan pakaian yang tidak disetrika atau lusuh pasti hal pertama yang terlintas adalah malas “dih ngurus pakaian sendiri aja malas apalagi ngurus yang lain”.Nah, itulah contoh hal pertama yang ada di pikiran orang saat melihat pakaian yang kurang rapi. Atau gini, pernahkah kita memakai pakaian yang kurang sopan? Sejatinya pakaian yang kita kenakan turut mewakili diri kita sendiri, kalau kita berpakaian rapi, sopan, dan wangi tentu akan menciptakan sebuah energi positif bagi kita dan sekitar. Pun sebaliknya jika apa yang kita kenakan tidak rapi atau bahkan belum dicuci. “Emang sih seseorang gak bisa dinilai cuma dari cara bicara dan pakaiannya, tapi gak ada salahnya untuk tetap menjaga lidah dan kerapian kita kan?”.Sebuah inner beauty akan terpancar dari apa yang kita ucapkan dan kita kenakan. Mulailah menghargai diri kita sendiri dimulai dengan menjaga lisan dan kerapian kita. Tak perlu mewah untuk terlihat cantik dan gagah, hanya perlu rapi untuk menjadikan kita seseorang yang elegan dan tak perlu pengawal untuk menjaga kita, selagi kita masih bisa menjaga lisan Juga Obati Dahaga Ngaji Ramadan di Pesantren, Alumni Krapyak Buka Kelas “NyantriKilat”Tidak dapat kita abaikan bahwa sikap hidup orang Jawa yang menjunjung tinggi nilai-nilai positif dalam kehidupan. Dalam interaksi antar personal di masyarakat, mereka selalu saling menjaga segala kata dan perbuatan untuk tidak menyakiti hati orang begitu menghargai persahabatan sehingga eksistensi orang lain sangat dijunjung sebagai sesuatu yang sangat penting. Mereka tidak ingin orang lain atau dirinya mengalami sakit hati atau tersinggung oleh perkataan dan perbuatan yang dilakukan. Sebab bagi orang Jawa, ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono yang berarti, harga diri seseorang dari lidahnya omongannya, harga badan dari tersebut diterapkan juga bagi seorang pemimpin, yang mana pemimpin tersebut harus tetap menjaga wibawanya dengan selalu menjaga harga dirinya, berperilaku dan berkata jujur, amanah, dan adil sama ketinggalan pula dengan yang disebut busono dalam kepemimpinan, yakni pemimpin harus sesuai dengan kapasitas yang dimiliki pada diri pemimpin tersebut sesuai dengan ahli yang dimilikinya, sehingga untuk meminimalisir munculnya kata dzolim dalam kepemimpinan. Dari kedua poin di atas, pemimpin bisa dikatakan sebagai pemimpin yang profesional. Setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan bahasa sendiri-sendiri, salah satunya bahasa Jawa. Hal ini dapat dilihat dari petuah-petuah, pitutur, maupun kata bijak bahasa Jawa yang diciptakan oleh para leluhur, kemudian dipelihara secara turun temurun, sehingga menjadi identitas budaya bagi masyarakat pitutur, maupun kata bijak dalam bahasa Jawa tersebut menyiratkan banyak makna, salah satunya adalah kata bijak bahasa Jawa yang mengajarkan sikap sabar yang harus dimiliki oleh masyarakat Jawa. Berikut ini rangkuman tentang kata-kata bijak bahasa jawa tentang sabar dan "Kawula Mung Saderma, Mobah-Mosik Kersaning Hyang Sukmo", jika ditulis dalam aksara jawa yaitu;꧋ꦏꦮꦸꦭꦩꦸꦁꦱꦢꦼꦂꦩ꧈ ꦩꦺꦴꦧꦃ​ꦩꦺꦴꦱꦶꦏ꧀ ꦏꦼꦂꦱꦤꦶꦁ ꦲꦾꦁ ꦱꦸꦏ꧀ꦩ꧋Jika kalimat petuah tersebut jika dijabarkan dalam aksara jawa antara lain sebagai berikut; ꦏꦮꦸꦭ ==> kawulaꦩꦸꦁꦱꦢꦼꦂꦩ ==> mung sadermaꦩꦺꦴꦧꦃ​ꦩꦺꦴꦱꦶꦏ꧀ ==> mobah-mosikꦏꦼꦂꦱꦤꦶꦁ ==> kersaningꦲꦾꦁꦱꦸꦏ꧀ꦩ ==> hyang sukmaKata bijak Bahasa Jawa "Kawula Mung Saderma, Mobah-Mosik Kersaning Hyang Sukmo", artinya; “lakukan yang kita bisa, setelahnya serahkan kepada Tuhan”.Petuah ini mengajarkan pada kita dua hal penting. Pertama, bekerjalah dengan sungguh-sungguh sesuai kemampuanmu. Dalam petuah ini juga tersirat pesa bahwa manusia tidak boleh membiarkan rasa malas menguasai diri. Kedua, serahkan hasil akhir dari setiap usaha yang dilakukan kepada Tuhan. Kewajiban kita hanyalah berusaha sementara hasil akhirnya tetaplah Tuhan yang menentukan, Dengan demikian, petuah ini menyiratkan pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan dalam hidup. Bekerja dan mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Kuasa termasuk salah satu "Ambeg Utomo, Andhap Asor", jika ditulis dalam aksara jawa yaitu;꧋ꦲꦩ꧀ꦧꦼꦒ꧀ ꦲꦸꦠꦩ꧈ ꦲꦤ꧀ꦝꦥ꧀ ꦲꦱꦺꦴꦂ꧋Berikut tulisan aksara jawa 'ambeg utomo andhap asor' jika dijabarkan kata per kata;ꦲꦩ꧀ꦧꦼꦒ꧀ ==> ambegꦲꦸꦠꦩ ==> utamaꦲꦤ꧀ꦝꦥ꧀ ==> andhapꦲꦱꦺꦴꦂ ==> asorKata bijak Bahasa Jawa "Ambeg utomo, andhap asor" , artinya; “selalu menjadi yang utama, tapi selalu rendah hati”.Tidak mudah mewujudkan pesan tersurat dalam petuah ini. Di satu sisi, kita dituntut untuk memperoleh keutamaan dalam hidup, tetapi di sisi lain justru dianjurkan untuk tetap rendah hati. Ketika seseorang sudah memperoleh kemuliaan, pangkat, dan derajat tinggi, godaan terbesarnya justru menjaga sikapnya agar tetap rendah hati kepada orang lain, tidak menunjukkan kelebihannya, santun, dan penyayang. Ia kaya, tetapi tetap menjadi sahabat terbaik bagi kawannya yang miskin. Ia pandai, tetapi tetap menjadi rekan menyenangkan bagi yang kurang pandai. Ia berpangkat, tetapi tetap ramah pada yang papa. Inilah manusia "Aja Nyedak Wong Ladak, Aja Nyanding Wong Muring-Muring", jika ditulis dalam aksara jawa yaitu;꧋ꦲꦗꦚꦼꦢꦏ꧀ ꦮꦺꦴꦁ ꦭꦢꦏ꧀꧈ ꦲꦗ ꦚꦤ꧀ꦢꦶꦁ ꦮꦺꦴꦁ ꦩꦸꦫꦶꦁꦩꦸꦫꦶꦁ꧋Jika kalimat petuah tersebut jika dijabarkan dalam aksara jawa antara lain sebagai berikut; ꦲꦗꦚꦼꦢꦏ꧀ ==> aja nyedakꦮꦺꦴꦁꦭꦢꦏ꧀ ==> wong ladakꦲꦗꦚꦤ꧀ꦢꦶꦁ ==> aja nyandingꦮꦺꦴꦁꦩꦸꦫꦶꦁꦩꦸꦫꦶꦁ ==> wong muring-muringKata bijak Bahasa Jawa"Aja Nyedak Wong Ladak, Aja Nyanding Wong Muring-Muring", artinya; “jangan mendekati orang yang congkak, jangan mendampingi orang yang marah-marah”.Sudah seharusnya kita jangan akrab dengan orang-orang yang sombong. Sebab, lambat laun kita juga akan tertular perangai kesombongannya. Begitu pula jangan bergaul dengan orang pemarah karena kita dapat mengikuti kebiasaan marahnya. Hal terbaik dalam menghadapi orang-orang yang congkak adalah mengingatkan mereka sambil menunjukkan sikap rendah hati. Sementara, cara terbaik menghadapi para pemarah adalah tidak "Ana Gunem Mingkem, Ana Catur Mungkur, Ana Padu Mlebu", jika ditulis dalam aksara jawa yaitu;꧋ꦲꦤꦒꦸꦤꦼꦩ꧀ ꦩꦶꦁꦏꦼꦩ꧀꧈ ꦲꦤꦕꦠꦸꦂ ꦩꦸꦁꦏꦸꦂ꧈ ꦲꦤꦥꦢꦸ ꦩ꧀ꦭꦼꦧꦸ ꧋ Jika kalimat petuah tersebut jika dijabarkan dalam aksara jawa antara lain sebagai berikut; ꦲꦤ ꦒꦸꦤꦼꦩ꧀ ==> ana gunemꦩꦶꦁꦏꦼꦩ꧀ ==> mingkemꦲꦤꦕꦠꦸꦂ ==> ana caturꦩꦸꦁꦏꦸꦂ ==> mungkurꦲꦤ ꦥꦢꦸ ==> ana paduꦩ꧀ꦭꦼꦧꦸ ==> mlebuKata bijak Bahasa Jawa "Ana gunem mingkem, ana catur mungkur, ana padu mlebu", artinya; “ada percekcokan tutup mulut, ada pembicaraan menjelekkan orang lain tidak usah dengar, ada perselisihan menyingkirlah”.Petuah ini menekankan tentang strategi menghindar dari pengaruh-pengaruh negatif yang disebabkan oleh kesalahan yang dibuat orang-orang di sekitar kita. Bila ada orang cekcok, sebaiknya jangan ikut-ikutan, sehingga dapat memperkeruh suasana. Jika memungkinkan, lebih baik melerai, tidak perlu ikut mencari kesalahan di antara mereka. Begitu juga apabila ada orang yang sedang membicarakan kejelekan orang lain, sebaiknya biarkan saja. Tidak usah didengarkan apalagi sampai ikut ambil bagian di dalamnya. Dan, seandainya Anda menemukan ada orang yang berselisih, sementara Anda tidak kuasa menengahinya, langkah terbaik adalah menyingkir. Tutup mulut, tutup telinga, dan menyingkir terkadang bisa menjadi strategi yang tepat bagi kita untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak "Dora Lara, Goroh Kerogoh", jika ditulis dalam aksara jawa yaitu;꧋ꦢꦺꦴꦫ ꦭꦫ꧈ ꦒꦺꦴꦫꦺꦴꦃ ꦏꦼꦫꦺꦴꦒꦺꦴꦃ꧋ Jika kalimat petuah tersebut jika dijabarkan dalam aksara jawa antara lain sebagai berikut; ꦢꦺꦴꦫ ==> doraꦭꦫ ==> laraꦒꦺꦴꦫꦺꦴꦃ ==> gorohꦏꦼꦫꦺꦴꦒꦺꦴꦃ ==> kerogohKata bijak Bahasa Jawa "Dora lara, goroh kerogoh", artinya; “berdusta menderita, menipu tertipu”.Orang Jawa mengenal tentang berlakunya hukum karma. Peribahasa atau petuah tersebut mencerminkan hal itu. Siapa yang suka berdusta kepada orang lain, maka akan menderita. Penderitaan yang paling terasa akibat perbuatan dusta, yaitu tidak dipercaya oleh orang lain, sehingga kita akan kehilangan mitra. Sebaliknya, seseorang yang suka menipu pasti akan tertipu. Oleh karena itu, sejatinya tidak ada perbuatan jahat yang tidak akan melahirkan akibat sebagai balasan bagi pelakunya. Siapa yang bermain lumpur, maka akan "Gusti Paring Dalan Kanggo Uwong sing Gelem Ndalan", jika ditulis dalam aksara jawa yaitu;꧋ꦒꦸꦱ꧀ꦠꦶꦥꦫꦶꦁ ꦢꦭꦤ꧀ ꦏꦁꦒꦺꦴ ꦲꦸꦮꦺꦴꦁ ꦱꦶꦁꦒꦼꦊꦩ꧀ ꦤ꧀ꦢꦭꦤ꧀꧋Jika kalimat petuah tersebut jika dijabarkan dalam aksara jawa antara lain sebagai berikut; ꦒꦸꦱ꧀ꦠꦶꦥꦫꦶꦁ ==> gusti paringꦢꦭꦤ꧀ ==> dalanꦏꦁꦒꦺꦴ ==> kanggoꦲꦸꦮꦺꦴꦁ ==> uwongꦱꦶꦁꦒꦼꦊꦩ꧀ ==> sing gelemꦤ꧀ꦢꦭꦤ꧀ ==> ndalanKata bijak Bahasa Jawa "Gusti Paring Dalan Kanggo Uwong sing Gelem Ndalan", artinya; “Tuhan memberi jalan untuk manusia yang mau mengikuti jalan kebenaran”.Masyarakat Jawa meyakini bahwa seseorang akan mencapai kebahagiaan dan keselamatan sebagaimana yang diharapkan apabila ia berada di jalan kebenaran. Satu-satunya jalan kebenaran itu adalah yang telah digariskan Tuhan. Seseorang yang memiliki keinginan untuk mengikuti jalan kebenaran akan diberi kemudahan dan bimbingan-Nya."7. "Ing Endi Dununge Pemarem lan Katentreman, Saking Angele Mapanake Rasa, Nganti Meh Ora Ana Wong kang Bisa Rumangsa Marem Ian Tentrem Uripe, Mula Kita Kudu Tlaten Ngalah Budi, Dhahana Rasa Meri Ian Drengki, Amrih Gorehing Pikir Bisa Tansah Sumingkir"Kata bijak Bahasa Jawa tersebut artinya “Di mana tempat rasa puas dan ketenteraman? Sangat sulit menempatkan rasa, sampai tidak ada orang yang bisa merasakan puas dan tenteram dalam hidupnya. Maka dari itu, kita harus selalu bersabar. Jangan pernah ada rasa iri dan dengki, supaya pikiran jelek bisa selalu tersingkirkan”.Sulit untuk menentukan batasan rasa puas pada setiap manusia. Umumnya, setiap orang selalu merasa kurang. Faktanya, ketika seseorang sudah memperoleh sesuatu yang diidamkan dan diyakini dapat memberinya rasa puas, tidak lama sesudah itu muncul keinginan lain. Memang begitulah faktanya. Oleh karena itu, dalam petuah ini, disebutkan bahwa beberapa cara yang dapat dilakukan seseorang agar benar benar menemukan rasa puas dalam dirinya, yaitu bersyukur, bersabar, serta tidak memiliki perasaan iri dan dengki hati, sehingga pikiran menjadi tenang, terbebas dari dugaan negatif yang dapat "Dening Dayaning Hawa Nafsu Iku Pancen Sakala Iku Bisa Aweh Rasa Pemarem, Nanging Sawise Iku Bakal Aweh Rasa Getun lan Panutuh marang Dhiri Pribadhi, kang Satemah Tansah Bisa Ngrubeda marang Katentremaning Pikir lan Ati, Guneman Sethithik Nanging Memikir Akeh Iku kang Tumrape Manungsa Bisa Aweh Katentreman lan Rasa Marem kang Gedhe Dhewe"Kata bijak Bahasa Jawa tersebut artinya “Ucapan kurang baik yang terucap hanya karena hawa nafsu itu memang seketika bisa membuat rasa puas. Namun, setelah itu menyesal dan menyalahkan diri sendiri, selalu terganggu ketenteraman pikiran dan hati. Berbicara sedikit, tetapi berpikir luas itu sebagaimana manusia bisa memberi ketenteraman dan rasa sangat puas yang besar.”Renungkan dan pikirkanlah sebelum kita mengatakan sesuatu. Inilah pesan inti yang terkandung dalam petuah Jawa tersebut. Setiap ucapan yang kita katakan hanya berdasarkan dorongan nafsu, bukannya keinginan untuk membahagiakan orang lain dan memberikan wawasan baru, melainkan menyakiti berasaan orang lain. Efek negatifnya hanya akan kembali dan mengganggu pikiran kita. Itulah sebabnya, jangan sembarang bicara karena ucapan yang kurang baik dapat menjadikan hidup kita "Kang Kalebu Musthikang Rat Puniku, Sujanma kang Bisa, Ngarah-arah Wahyaning Ngling, Yektinira Aneng Ngulat Kawistara"Arti pepatah tersebut yaitu, “yang termasuk pribadi unggul adalah orang yang mampu bertutur kata benar dan terarah, sesungguhnya demikian itu tampak dari mimik wajahnya”.Biasanya, kepribadian baik seseorang terlihat dari cara bersikap dan bertindak di depan orang lain. Salah satunya adalah sikap saat berbicara. Orang yang kepribadiannya baik selalu menjaga ucapannya dari perkataan dusta. Saat berbicara, jelas arah pembicaraannya. Mereka tidak akan membicarakan hal-hal yang tidak berguna, apalagi sampai menyinggung perasaan Orang lain. Begitu pula dengan raut wajahnya. Aura orang yang memiliki hati baik pasti jauh berbeda dengan yang hatinya dipenuhi "Klabang Iku Wisane Ono ing Sirah, Kalajengking Iku Wisane Ono ing Buntut, Nanging Durjono Wisane Ono ing Sakujuring Badan"Petuah Jawa tersebut artinya, “kelabang itu racunnya ada di kepala, kalajengking bisanya ada di ujung ekor, sedangkan orang yang durjana racunnya ada di sekujur tubuhnya”.Pernahkah Anda memiliki tetangga yang jahat, buruk sikap dan perangainya? Orang-orang seperti ini selalu mendatangkan ketidaktenangan bagi tetangga lainnya. Ia dianggap ancaman yang perlu dijauhi. Segala gerak-geriknya senantiasa menimbulkan kekhawatiran, bahkan orang Jawa menggambarkan pribadi orang jahat itu seperti mengandung racun di sekujur tubuhnya, maka penggambaran itu tidaklah berlebihan. Jika takut kepada ular, kalajengking, dan kelabang, maka kita masih bisa menghindari dengan mudah. Namun ketika memiliki tetangga atau teman yang jahat, rasanya kita tidak memiliki tempat yang aman dari tindakan bejat dan jugaDemikian rangkuman "Kata Bijak Bahasa Jawa Tentang Sabar, Aksara Jawa dan artinya" yang dapat kami sampaikan. Baca juga makna dan arti kata bijak Jawa menarik lainnya hanya di situs Ajining Diri Soko Lathi, Ajining Rogo soko Busono Di postingan kali ini gue bakal menulis tentang salah satu pepatah Jawa yang sangat bagus untuk dipelajari. Bagi kalian yang orang Jawa pasti sudah tahu pepatah ini kan?? bagus lagi kalau kalian dapat memahami arti pepatah Jawa diatas. Bagi kalian yang belum paham dengan makna pepatah tersebut, gue bakal menjelaskannya. Pepatah ajining diri soko lathi terjemahannya adalah harga diri seseorang ditentukan oleh tutur katanya Lathi=lidah. Kebanyakan orang menilai orang lain lewat perkataan yang dikeluarkan dari mulutnya. Anggapan bahwa lidah lebih tajam daripada pedang bisa dibilang benar. Karena lidah dapat menyakiti seseorang lebih kejam daripada pedang. Kembali ke topik tutur kata, jika kita sering berkata kasar maka orang lain akan mengenal kita sebagai pribadi yang kasar. Jika tutur kata kita halus, baik, dan sopan maka orang lain akan menilai kita sebagai pribadi yang santun dan ramah. Pepatah ajining diri soko lathi mengajarkan kita untuk selalu menjaga setiap tutur kata kita. Jadi betapa besar dan pentingnya pengaruh ucapan kita terhadap kehidupan sehari-hari di masyarakat. Dan pepatah ajining rogo soko busono memiliki arti penampilan seseorang ditentukan dari cara berpakaiannya. Penampilan dapat menunjukan karakter kita di mata orang lain. Jika kita melihat ada orang yang berpenampilan rapi maka kita beranggapan bahwa orang itu mencintai kebersihan dan kerapian, dan sebaliknya saat kita melihat ada orang yang berpakaian kusut dan berpenampilan kotor kita akan menilainya sebagai karakter yang kotor, malas, dan jorok. Pakaian juga dapat menunjukkan status sosial kita di masyarakat, dan bahkan secara tidak sadar pakaian di masyarakat dapat menimbulkan persepsi seseorang terhadap kita. Contoh seseorang berpakaian compang-camping = pengemis, seseorang berpakaian kemeja rapi, berdasi, dan berjas = orang kerja. Pepatah ini mengajarkan kita bahwa kita harus memperhatikan cara berpakaian kita di masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa pepatah ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono memberi pelajaran bagi kita untuk dapat menilai diri sendiri dn orang lain dengan memperhatikan setiap detail yang ada. Dan agar kita dapat diterima di masyarakat sebagai pribadi yang baik itu memang tidak mudah. Karena sering kali sesuatu yang kita anggap benar bisa saja salah di mata orang lain, dan yang orang lain anggap benar bisa saja kita beranggapan itu salah. Namun semua itu tergantung dari pribadi masing-masing. Kalian juga dapat memakai pepatah ini untuk pedoman kalian di masyarakat..... ^^ ^^